Sejarah Kuda Kosong dan Budaya Helaran Cianjur (Bagian 1)

0
13
TRADISI KUDA KOSONG DARI MASA KEMASA
Budaya Cianjur
Iring-iringan Kuda Kosong selalu hadir pada saat pelaksanaan Helaran Budaya setiap peringatan hari jadi kabupaten Cianjur, yang jatuh pada tanggal 12 Juli. Kuda bertubuh tinggi dibawa seorang ulama yang dikawal beberapa hulu balang, ini menggambarkan Dalem Aria Kidul/Rd. Aria Natadimanggala saat tiba di Cianjur setelah menempuh perjalanan panjang dari ibu kota kesultanan Mataram di Kertosuro Jawa Tengah ratusan tahun lalu. Kuda sengaja tidak dinaiki karena Aria Kidul merasa yang berhak menaiki kuda adalah Bupati Cianjur Rd. Aria Wiratanu II/Rd. Wiramanggala (1691-1707) kakaknya. Di belakang iring-iringan kuda kosong terdapat para jawara yang membawa pohon Saparantu hadiah dari Sultan Mataram Amangkurat II (1680-1702). Anugrah Amangkurat II lainnya adalah kuda Eropa dan keris bertahtakan intan berlian yang dibawa Aria Kidul.

Iring-iringan Kuda Kosong biasanya menempati barisan terdepan dalam Pawai Pembangunan hari jadi Cianjur, setelah itu diikuti anggota pawai lainnya perwakilan sekolah, instansi pemerintah daerah, swasta, pesantren, dsb. Kuda Kosong adalah salah satu tradisi khas Cianjur, seperti halnya Penca Cikalong, dan Mamaos. Pawai Pembangunan nampaknya tidak memiliki “dangiang” apabila tidak dihadiri iring-iringan Kuda Kosong, namun begitu, tradisi Kuda Kosong sempat dilarang digelar Ir. H. Wasidi Swastomo Bupati Cianjur periode tahun 2001-2006. Pelarangan tersebut berdasarkan desakan para ulama melalui Silaturahmi Majelis Ulama (Silmui) di gedung Dakwah Cianjur yang memutuskan bahwa tradisi Kuda Kosong sarat dengan praktek perdukunan karena didalamnya terdapat ritual pemanggilan Rd. Suryakancana raja lelembut dari gunung Gede Cianjur. Ritual ini dikhawatirkan akan mengarahkan warga Cianjur yang melihatnya kepada perbuatan Syirik dosa besar dalam agama Islam.

Pelarangan tersebut mengakibatkan selama beberapa tahun Kuda Kosong tidak hadir disetiap Pawai Pembangunan hari jadi Cianjur tanggal 12 Juli. Padahal Kuda Kosong selama puluhan tahun telah menjadi daya tarik luar biasa bagi warga yang melihatnya, mereka pada umumnya yakin bahwa Rd. Suryakancana selalu “hadir” dan duduk diatas kuda tersebut, walaupun secara kasat mata tidak tampak. Larangan tampilnya Kuda Kosong mengakibatkan hubungan yang kurang harmonis antara Pemerintah daerah dan para aktivis budaya di Cianjur seperti Paguyuban Pasundan, Dewan Kesenian Cianjur, Lembaga Kebudayaan Cianjur dsb. Hubungan kurang harmonispun terjadi antara Majelis Ulama (MUI) Kab. Cianjur dengan para aktivis budaya yang dipelopori Abah Ruskawan Ketua Paguyuban Pasundan Kab. Cianjur.

Ketidak harmonisan tersebut mulai mencair, saat tampuk pemerintah daerah berganti, Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh mengajak ulama dan budayawan duduk semeja untuk mencari jalan keluar agar polemik pelarangan Kuda Kosong dapat berakhir dengan baik. Akhirnya MUI Kab. Cianjur bersedia mengijinkan Kuda Kosong ditampilkan kembali dengan syarat penghapusan ritual pemanggilan raja jin Rd. Suryakancana. Maka sejak beberapa tahun lalu, tradisi Kuda Kosong kembali digelar setiap Pawai Pembangunan Hari jadi Cianjur 12 Juli, tentu tanpa “kehadiran” Rd. Suryakancana. Bagi kalangan pemerhati sejarah Cianjur dengan adanya konflik pro dan kontra Tradisi Kuda Kosong terdapat manfaat yang besar, karena memang telah terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan tradisi Kuda Kosong sejak berakhirnya masa penjajahan Jepang tahun 1945 ditanah air, hingga masa pemerintahan Bupati Cianjur Harkat Handiamihardja (1996-2001). Iring-iringan Kuda Kosong yang digelar setiap hari besar Islam pada era penjajahan Belanda semula tidak ada hubungannya dengan Rd. Suryakancana raja jin dari gunung Gede Cianjur. Namun sejak tahun 1950 tradisi ini dihidupkan kembali setelah dihentikan penjajah Jepang, namun pelaksanaan berbeda karena ternyata mencontoh tradisi Kuda Kosong yang digelar di kabupaten Ciamis yang dalam pelaksanaannya terdapat ritual “menghadirkan” raja siluman Onom. Untuk lebih jelasnya mari kita simak sejarah lahirnya Tradisi Kuda Kosong.

Tradisi Kuda Kosong dimulai dari suasana tatar Sunda/ Jawa Barat yang saat itu berada dalam penjajahan Kesultanan Mataram selama tiga generasi Sultan Mataram, yakni Sultan Agung / Prabu Hanyokuroksumo (1613-1645), Sunan Amangkurat I / Rd. Syahidin (1645-1677) dan Sunan Amangkurat II / Rd.Ameral (1680-1702). Tatar Sunda setelah runtuhnya Kerajaan Pajajaran tanggal 8 Mei 1579 oleh gempuran pasukan gabungan Demak, Cirebon dan Banten, wilayahnya jadi rebutan antara Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon dan Kerajaan Sumedang Larang. Namun sejak Sultan Agung Mataram berambisi menaklukan daerah-daerah dipulau Jawa, satu persatu kabupaten di seluruh Jawa termasuk di Jawa Barat ditaklukan Kesultanan Mataram, Kerajaan Galuh takluk tahun 1595, wilayah-wilayah bekas kerajaan Galuh dipecah menjadi beberapa kabupaten, demikian pula kerajaan Sumedang Larang tunduk kepada Mataram tahun 1620, status Sumedang yang semula kerajaan diturunkan jadi bupati bawahan Kesultanan Mataram, demikian pula dengan Cirebon, malah Sultan Cirebon Panembahan Girilaya (1649-1677) tewas dipenjara dengan status tahanan  Sultan Mataram. 

Para Sultan Mataram menjajah tatar Sunda dengan otoriter, bahkan kebudayaan Jawa dipaksakan menjadi kebudayaan Sunda,menurut Prof. Dr. Ninna Lubis, MS dalam buku “ Tranformasi Sejarah Sunda “dijelaskan beberapa kebudayaan Jawa yang semula diterapkan ditatar Sunda secara paksa oleh Kesultanan Mataram saat menjajah tatar Sunda kini sudah dianggap menjadi bagian dari kebudayaan Sunda seperti undak usuk basa, wayang golek, menanam padi disawah, gelar raden, dongeng nyi roro kidul, dongeng Prabu Siliwangi menjadi siluman harimau, dan sebagainya.

Editor : Ihsan Subhan
Sumber : Luki Muharam (Budayawan Cianjur) 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here